BANGKIT PASCA GEMPA 2009: Jejak Pemulihan Jiwa hingga Lahirnya Sanggar Umbuik Mudo
-
Dari Puing Bencana Menuju Pemulihan Jiwa (Trauma Healing Kak Seto)
Gempa dahsyat yang mengguncang Sumatera Barat pada 30 September 2009 meninggalkan duka yang mendalam. Infrastruktur hancur, bangunan sekolah rata dengan tanah, dan rumah-rumah warga luluh lantak. Di tengah situasi kelam tersebut, Ibu Dewi Wisanty mengambil inisiatif untuk mengabarkan kondisi memprihatinkan di Padang Pariaman—khususnya di Nagari Sungai Asam (lokasi Sanggar Umbuik Mudo saat ini)—kepada rekan-rekannya di luar daerah.
Kabar duka ini segera mengetuk hati banyak pihak. Salah seorang rekan beliau, yakni Direktur Susu Bendera yang saat itu tengah berada di Singapura, langsung merespons dengan mengirimkan bantuan logistik nutrisi. Namun, kepedulian tersebut tak berhenti pada bantuan fisik. Menyadari bahwa guncangan batin anak-anak sama parahnya dengan kerusakan bangunan, pihak Susu Bendera turut mendatangkan tokoh pemerhati anak nasional, Kak Seto, untuk memberikan trauma healing.
Kehadiran Kak Seto menjadi oase bagi anak-anak Padang Pariaman yang kehilangan keceriaan akibat bencana. Pendampingan psikologis ini pun tidak berlangsung singkat; tim trauma healing terus mendampingi anak-anak secara rutin selama enam bulan pasca-gempa. Melalui pendekatan humanis berupa pertunjukan boneka tangan, senyum dan harapan anak-anak Nagari Sungai Asam perlahan kembali mekar.
- Cikal Bakal Tunas Kelapa:
Terbentuknya Sanggar Umbuik Mudo Masa pemulihan pasca-gempa menjadi titik balik yang sangat bersejarah. Berangkat dari kepedulian terhadap pendidikan karakter anak di masa sulit, Ibu Dewi mendirikan sebuah Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) yang berlokasi tak jauh dari gedung Sanggar Umbuik Mudo saat ini.
Siapa sangka, dari kegiatan keagamaan di TPA inilah benih-benih kecintaan terhadap kesenian tradisional mulai bersemi. Antusiasme anak-anak yang luar biasa akhirnya melahirkan sebuah grup kesenian Randai di bawah bimbingan langsung akademisi ISI Padang Panjang, (Alm.) Efyuhardi, S.Sn., M.Sn. Karya pertunjukan pertama yang mereka garap mengangkat kisah "Umbuik Mudo".
Nama "Umbuik Mudo" sendiri bukan sekadar judul, melainkan memiliki filosofi yang sangat mendalam: tunas atau cikal bakal kelapa muda yang akan terus bertumbuh tegak dan memberikan segudang manfaat bagi kehidupan. Filosofi ini benar-benar menjadi nyata. Kegiatan kesenian yang bermula dari anak-anak TPA tersebut sukses menjadi magnet bagi remaja di sekitar Nagari Sungai Asam untuk ikut bergabung dan melestarikan budaya lokal.
Kini, Sanggar Umbuik Mudo telah menjelma menjadi rumah kedua yang memberikan dampak positif luar biasa bagi masyarakat. Selain menjadi wadah penyaluran bakat dan pelestarian seni budaya Minangkabau, kehadiran sanggar terbukti efektif menjadi benteng pelindung bagi generasi muda dari berbagai dampak negatif pergaulan dan arus modernisasi zaman. Dari puing-puing gempa 2009, Umbuik Mudo telah tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan meneduhkan.
Komentar